Puisi Faiz

Sunday, October 19, 2008


Sumber :http://masfaiz.multiply.com/journal/item/65/Dari_Seorang_Anak_Bagi_Ayah_Ibu_yang_Akan_Bercerai
Ayah, Ibu
tolong, jangan cerai
sebab bercerai selalu membuat kita runtuh
tak bisakah semua dibicarakan baik-baik
dengan kepala sedingin batu es
dan hati yang embun?
Mengapa kalian saling menyakiti
dan mengabaikan kami?
Kami bukan lemari
yang kalian pajang di rumah
bisa digotong ke sana kemari
kami punya kebeningan hati
pendapat yang bisa dipertimbangkan
kamilah penggenggam erat semua cinta
yang kalian lempar sampai begitu jauh
Jangan bercerai,
kecuali hanya bila salah satu pergi menghadapNya
jangan bercerai,
kecuali hanya bila ada yang mengingkari ilahi
jangan bercerai, ayah ibu
sebab itu berarti meruntuhkan dunia indah
yang kita bangun sejak dulu
dari senyuman dan kenangan
yang kita kumpulkan setiap waktu
Ayah ibu,
bila kalian tetap bercerai
mungkin kami tak lagi kanak-kanak
diri kami akan menyusut, mengerut
menjelma gumpalan duka tanpa mata,
lalu mungkin akan kami asah
duri-duri hati menjadi taring
Pada suatu masa
kalian pun akan tergugu
menemukan kami yang berhati bolong
di sepanjang lorong
menuju rumah entah siapa..

Ini dia puisi karya Faiz si penyair cilik. Mungkin sepertinya setiap orang tua wajib baca... Supaya mereka sadar... kalau mereka bertanggung jawab pada satu set kehidupan selanjutnya, yang akan bertanggung jawab pada kehidupan-kehidupan penerusnya...

Senyuman Bintang

Aku percaya bintang melihat...
Segalanya...
Kutanyakan pada diriku
Inikah yang kuimpikan?
Benarkah ini yang kuingini?
Aku percaya malam kemarin begitu gelap
Tapi aku menyukainya karena bintang tersenyum pada kita.

Jika

Tuesday, June 10, 2008


Jika aku tidak bisa menjadi mawar penghias yang indah di altarMu...
Biar aku jadi bakung liar yang menghibur pengembara
Menemani mereka tersenyum dan bersyukur memuji Engkau...

Jika aku tidak bisa menjadi lonceng merdu di puncak GerejaMu
Biar aku jadi pipit kecil yang berkicau di pelataranMu
Membangunkan mereka dari lelap dan menyembahMu...

Aku bukan permata indah penghias mempelai wanita yang cantik
Juga bukan kayu yang kuat dan gagah untuk ukiran indah salibMu
Bukan pula musik syahdu yang selalu menggema menggema menggetar jiwa dari biara

Biar aku jadi lilin kecil yang menerangi seorang anak berdoa sebelum tidurnya
Menghangatkan jemari mereka yang terlipat dengan cahaya lemahku

Tak akan lama waktuku untuk bertahan, akan habis oleh waktu
Namun biarlah kehangatanku mengajarkan jemari itu untuk tetap terlipat sampai nanti

Tak kumiliki sesuatu pun, kecuali hati dan jiwa...
Dan keikhlasan yang tulus untuk dibentuk seturut kehendakMu
Dan kerinduan untuk menjadi hambaMu