Tampilkan postingan dengan label bunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bunda. Tampilkan semua postingan

Jauh Semakin Jauh

Friday, July 17, 2009

Bunda jangan marah
Biar angin timur membawa amarahmu pergi, ke arah senja yang tenggelam bersama sang putri langit, Sang Jingga yang tetap tersenyum.
Aku dan seisi laut hanya senyum simpul tanpa arti mencela
Bu, perih tampar di wajah dan sakit remuk di hati tak cukup untuk membunuhku
Bukan tetes air mata yang ingin kau lihat. Karena air mataku habis kering sudah sejak lama.
Seperti pelangi bocah yang terampas hilang musnah sejak bantingan pintu terakhir itu
Tak kah kau tau itu, Bu? Pelangiku sudah lama abu-abu... Bukan baru kemarin
Sepertinya gelimang angka-angka telah membuatmu lama tersadar, aku memang telah lama pergi
Bunda jangan marah, tak perlulah teriak mengiris-ngiris telinga dan hati yang sudah jadi serpih
Apa pula yang ingin kau tumbuk lagi?
Hatiku telah matang jadi bubur, yang ditumbuk dan digodok, lalu dikukus bertahun-tahun, siap dimakan si adik
Bu, tolong berhenti marah, karena itu tak akan membunuhku, itu hanya akan membuatku hilang semakin jauh
Jauh
J a u h
J a u h
Ja uh
J a u h
Dan
Semoga
aku masih
bisa pulang

Satu Kali Lagi ini Untuk Ibu

Tuesday, June 16, 2009


Hari ini mungkin
Hari yang kurang baik untuk Ibu
Mungkin Ibu lelah, mungkin Ibu pusing

Hari ini mungkin
Hari yang mengesalkan bagi Ibu
Mungkin Ibu marah, mungkin Ibu emosi

Hari ini Ibu marah
Entah aku salah apa
Mungkin aku hanya ada di tempat yang salah

Mungkin Ibu sedang ingin marah saja
Dan aku yang ada disana
Jadilah aku yang kena amarahnya

Mungkin aku yang harusnya mengerti
Mungkin aku yang harusnya pergi
Maaf kan aku... karena ada di dekatmu

Aah.. aku rindu Ibu
Ibu yang berhenti marah dan membentak
Ibu yang bisa didekati tanpa takut meledak

Aah.. semoga Ibu cepat kembali
Karena aku mulai lupa rupamu, Bu..
Rupamu yang cantik, tenang dan lembut

Aku minta maaf pagi ini
Bila keberadaanku membuatmu kesal
Bila wajahku membuatmu marah

Tapi kumohon...
Tak perlu bentak teriak itu
Tak perlu banting tampar itu

Aku mengerti bahasa tanpa harus dibentak
Aku mengerti perintah tanpa harus dipukul
Aku mau mengertimu walau belum pernah cukup

Aku minta maaf...
Kalau belum pernah cukup
Segalanya dariku

Aku minta maaf..
Mungkin sebaiknya aku pergi dulu
Sampai kembali benar Ibuku

Bu...satu kali lagi ini untuk Ibu
Semoga Ibu tidak lupa lagi
Semoga Ibu lekas ingat

Aku masih disini, Bu..
Masih..
Disini..

Ibuku Dulu dan Kini

Wednesday, June 17, 2009


Ibuku Yang Sangat Cantik
Judul puisi yang menang di lomba Taman Bermain
Umurku 5 tahun.. tak lebih.. tak kurang.. seharipun
Dulu kutulis..

Ibuku sangat cantik
Paling cantik sedunia
Lebih cantik dari Lady Di!

Setiap pagi Ibu menyiapkan roti coklat
Ibu tersenyum setiap kupulang bermain
Ibu menciumku setiap kupergi sekolah

Kini..
Setelah beberapa tahun

Ibuku masih sangat cantik
Paling cantik sedunia
Masih Lebih cantik dari Lady Di!

Tapi Ibu selalu kehabisan roti coklat di pagi hari
Ibu tak lagi tersenyum setiap kupulang bermain
Ibu tak lagi menciumku setiap kupergi sekolah

Dulu Ibu memelintir rambut ikalku sampai lelap
Kini ranjang Ibu kosong sampai mimpiku setengah jalan
Dulu Ibu membangunkanku dengan kecup mesra
Kini alarm meraung-raung di telingaku setiap pagi
Ibu masih lelah lelap sendiri

Tapi Ibuku masih tetap cantik
Paling cantik sedunia
Tetap lebih cantik dari Lady Di!

Dulu Ibu memaksaku menulis catatan harian
Sampai aku menangis padahal aku ingin nonton Dono
Kini Ibu lupa kelas berapa aku sekarang
Sampai suatu hari ketika terima rapot, Ibu tersesat di sekolah putrinya :)

Dulu Ibu memuji tulisanku,cakar ayam berisi celoteh riang
Dulu Ibu memajang karya lukisku, pialaku dan memberi pigura semua penghargaanku
Bahkan aku malu Ibu memajang piala Joget Heboh yang kumenangkan di TK besar

Kini Ibu lupa aku bisa mengeja, Ibu lupa aku bisa menulis
Kini Ibu hanya mengangguk kaku dan menaruh jari di bibir
Saat suatu siang kubuka pintu dan aku bilang aku terpilih jadi Ketua

Tapi Ibu masih..... cantik
Paling cantik sedunia
Tetap lebih cantik dari Lady Di!

Kemarin kutemukan Ibu di tempatnya, di depan layar tak pernah kedip
Aku bilang sambil senyum senang 'Bu, Aku naik kelas!'
Ibu tidak bergeming dari layar dan angka-angka di kepalanya
Tidak lagi ada anggukan sederhana

Mungkin Ibu sudah lupa, kalau aku masih anaknya
Atau
Mungkin angka-angka pada layar tak kedip lebih menarik
Daripada angka-angka pada kertas raportku
Atau
Mungkin saja Ibu sedang lupa
Mungkin saja nanti ia ingat
Aku masih disini

Semoga ibuku masih sangat cantik
Paling cantik sedunia
Tetap lebih cantik dari Lady Di!

Semoga aku tidak lupa
Bahwa aku masih punya Ibu

Ibuku Yang (masih) Sangat Cantik.


Jawab Pada Embun


Friday, October 24, 2008

Sayangnya kita tak punya album biru untuk dibuka, Bunda
Dan segala napasmu menciptakan bintang-bintang baru bagiku

Kutanyakan tentang surga
Kau jawab pada embun dedaunan
Kuharap ku dapat saksikan surga di dalamnya
Sehingga berhenti kucari jawab

Kutanyakan tentang hidup
Kau tunjukan rasi-rasi di langit gelap
Kupikir kutemukan rahasianya dikejauhan
Lalu aku akan berhenti berlari

Tapi tak kutemukan apapun disana
Kecuali mataku dalam pantulan bening
Dan bayangku pada sunyinya malam

Bunda, kau tak beri tau aku dimana surga
Tidak pula rahasia kehidupan

Bunda, ditemani senyum mu kau tuntun aku mencari surga dengan kakiku
Dengan belaianmu kau ajakku belajar mengerti misteri pelangi kehidupan
Dan bintang-bintang dari napasmu memberiku terang
Menikmati jalan cahaya bersama para peri.

Ayah Bunda

Sunday, October 19, 2008

Bunda adalah yang terhebat karena dirinya memberikan nyawa pada kata cinta dan darinya kami belajar percaya pada kekuatan kasih.

Bagaimana ia mencoba mengobati hati kami yang terluka dan meneteskan air mata atas bisikan doa dalam setiap kekhawatiran kami.

Bagaimana ia menggenggam jemariku untuk meredakan kerisauan hati dan menciptakan mentari di kelabunya hariku.

Ayah adalah yang teristimewa karena darinya rinduku akan pelukan hangat terlegakan dan senyumnya menciptakan tapak untuk melangkah.

Berapa banyak bintang di langit tak dapat kuhitung, demikianlah ayah sanggup mengurai warna-warna pelangi kehidupan yang kuragukan.

Sapaannya merajut senyum di wajahku yang basah oleh air mata dan mengingatkanku untuk kembali berdoa.

Betapa kurindu memanggil ayah..ayah..ayah.. pada seorang lelaki yang bersedia menatapku hangat.

Ayah... Bunda.... mengajarkan kami melihat pelangi yang menjulurkan tangga kehidupan..

Dan menyalakan lilin kehidupan kami yang hampir padam dibungkam kekecewaan...

Ayah...Bunda... seandainya seluruh bintang di langit bernama cinta dan setiap udara adalah sayang yang dapat kami berikan. Entah apa lagi yang lebih untuk membuat ayah bunda mengerti betapa kucintai kau berdua...

PS: terima kasih Faiz...