Aphaea dan Adonis

Terbakar

Sedikit demi sedikit dilalap api

Habis ya habis

Lumat sedikit demi sedikit

Dibara api dihanyut angin musim gugur

Suara kerenyut dibakar

Berderak menanti daun selembar-selembar mati

Api dimakan, malam tertawa

Jendela terbuka, gereja di tengah kota berdendang

Dunia terdiam, malu telah berdosa

Peri-peri coklat terbang masuk

Ke dalam kamar remang-remang

Kotak digital tak ingin mengantuk, tak bisa tidur

Sembab bersimbah air mata semalaman

Sebatang lisong belum juga habis

Menunggu dalam bara jingga merah

Dikutuk peri-peri musim gugur

Aku belum sampai sana

Kamu sudah

Dan tak mau menunggu

Menara disana, menyala menunjuk waktu

Dua belas seperempat

Dan kamu belum juga tidur

Peri-peri yang sudah terlanjur masuk

Undang yang banyak, kita tertawakan dunia

Sembari api membakar malam

Saling lahap, tak kunjung kenyang

Kita lihat pelan-pelan,

Siapa yang akan menang

Aku? Api?

Kamu? Malam?

Baris-baris ini yang akan menang

Karena tak ada lagi jingga

Tak ada lagi biru

Warna itu sudah basi

Berjamur dikutuk takdir

Putri-putri sudah lahir

Tak ada lagi raja dan ratu

Kita telah kalah

Karena akhirnya api dan malam yang tetap terjaga

Dunia berhenti tertawa

Tak ada yang lucu, hanya ada permainan

Sebatang lisong hadiahnya



Dan, dewaku...

Ingatkan aku untuk berpuisi



====

galau dimalam purnama :D

ada yang bisa mengingatkan bagaimana dulu aku merangkai kata?

Ruang

Aku kamu bertemu di ruang tempat dua menjadi satu
Ruang dengan penjelasan adalah penghormatan pada kebebasan
Sedangkan ruang tanpa penjelasan adalah pemisah satu dan dua
Ruang di sini sempit dan luas sekaligus
Di bawa pada makna hampa ruang yang penuh udara, tak ada lagi yang dapat masuk
Selama ini kita berdekatan begitu rapat
Ini waktunya rela melukis ruang di antara kedua dada kita, ruang di antara kedua mata kita, bahkan ruang di antara jemari kita
Pula ruang di antara hati yang tadi satu
Kini di ruang, kembali jadi dua
Penuh melati, ruang yang rasanya mati

Pudar


hujan tak pedih disambut gerimis tak henti
bulir-bulir air mengalir bergilir dipilin
aku menunggu tergugu disapu embun
warnaku pudar luruh dengan lunturnya pelangi

si merah pecah bercerai dalam derai yang tak selesai
si hijau sesat kehilangan iman dan berkhianat pada malam
sang hitam mati perih mengiris diri yang sunyi
si putih lelap dalam kalap yang menyergap
si biru pergi bimbang untuk tak kembali
si jingga... hilang dalam kesendirian
dan aku?

warnaku pudar luruh dengan lunturnya pelangi
aku hilang warna
aku hilang nyawa
aku hilang tawa
aku hilang dalam gempita

harus ada satu gerimis lagi untuk membangunkan lagi sang pelangi

Mahameru


Bulan sabit malam ini, katamu
Dan sepertinya hari ini langit sedang bermurah hati
Tidak ada petir dan guntur seperti semalam
Tidak juga panas dan kering seperti minggu lalu
Yang ada hanya aku diantara sepi dan kamu diantara denting
Malam ini terlalu indah, menyisakan asap tembakau untuk disesap
Dan debur ombak yang ganjil melebur biru

***

Kita berjalan tak perlu jauh
Cukup disini, di dalam gelap yang membisu
Menyembunyikan wajahmu hilang dalam ilusi
Kita mulai saja Sayang, pendakian dengan napasmu ini
Ranu Pane yang tenang memulai perjalanan kita
Raih aku sayang, kulum kedua Ranu di desa ini, dua saudari si Pane dan Regulo
Namun jangan puas dulu, puncak masih jadi latar belakang
Jauh dibalik sana, tertutup kabut dan awan-awan
Ayo jangan segan, sentuh aku perlahan, sambil kau tapaki langkah demi langkah
Menikmati indahnya Watu Rejeng yang ditumbuhi edelweis dan alang-alang
Tapi jangan tergiur sayang, biarkan hidup aman disana
Cukup kau sentuh saja, biarkan jemarimu di gelitik alang-alang
Biarkan matamu mengerjap lega, disapa lembah pinus dan cemara yang indah

***

Sudah letih kah kamu sayang? Kita istirahat saja dulu disini
Di tepi Ranu Kumbolo yang belum kau cicipi
Dirikan kemahmu, buat api unggun sambil menikmati bintang
Ayo jangan malu-malu, dekap aku saja dalam sepi
Biarkan aku rebah di dadamu yang bidang sambil menikmati aura malam
Tapi jangan juga terlalu lama disini, sayangku
Nanti kita bosan dan akhirnya terlelap
Malam ini terlalu indah untuk dilewatkan dengan dengkurmu

***

Medan setelah ini akan lebih berat, sayang
Tapi jangan takut, karena aku disampingmu
Menemani peluh keringatmu
Selaras dengan napasku
Raih genggamanku saat kita mendaki Tanjakan Cinta
Ayo agak sedikit cepat, perjalanan semakin seru
Napasmu mulai memburu, kugenggam jemarimu erat-erat
Tapi jangan lihat ke belakang lagi sayang
Mereka percaya cinta akan abadi
Aku tahu kau lelah, tapi Oro-oro Ombo yang luas menyambut kita
Indah dalam desah yang tidak lagi punya nada
Jangan ragu, ayo, bahkan kau belum melihat surga yang sesungguhnya

***

Aku masih disini sayang, belum pergi kemana-mana
Sekali lagi remas jemariku agar aku tahu kau ada
Kalimati di depan sana, basah dan subur
Indah diperbatasan antara padang rumput dan hutan cemara
Diberkahi mata air Sumber Mani
Belum... sabar sayang... Puncak masih diujung sana
Jangan tergesa-gesa, oksigen semakin menipis, napasmu tersengal-sengal

***

Kini dekap aku, dorong aku ke atas lebih dulu
Arcopodo ini rawan dan terjal
Bukit pasir yang rentan pada longsor
Bisa-bisa kita terpeleset jatuh berdua
Dekap aku lebih kencang lagi
Karena pasir dan kerikil kecil menggoda dibalik selimut ini
Kau tanya aku dengan cinta, Masih jauhkah puncak itu?
Kujawab sambil kukulum kau mesra, Satu perhentian lagi sayang
Dan dengan sabar kau biarkan aku memimpin
Meniti langkah satu per satu
Terus sebut namaku sayang, agar aku tetap sadar kau ada tepat di belakangku

***

Aku hilang dalam deru angin yang kencang di atas sini
Kebas dalam ayunan malam
Dalam napas yang memburu kau tanya aku, Hai Cantik dimana kamu?
Oksigen disini tipis, tak sampai napasku menjawab
Tersengal kujawab juga kau lirih, Ce...Cemoro Tunggal
Jangan biarkan aku di puncak ini sendiri, sayang
Susul aku, dalam desah dan sepi yang semakin melebur

***

Kau semakin tergesa berlari
Tenang sayang, biarkan surga datang pada kita
Jangan dikejar, karena surga itu semu
Kejar dia dan hanya jejak yang kau dapat
Tunggu saja, maka ia akan hadir di pangkuanmu
Puncak di depan mata, sayangku
Siapkah kau melihat surga?

***

Puncak.
Kita sampai juga bersamaan
Menjejakkan kaki di atas Mahameru
Dengan jemari masih menggenggam satu sama lain
Semoga ini sekarang dan selamanya
Tatap aku sayang, jangan hilang di surgamu
Biarkan semburan kegembiraan melebur dengan peluh dan segala lenguh
Hari ini kau usap rambutku perlahan
Menyelaraskan napas dan kau kecup perlahan
Terima kasih, telah membawa surga padaku sayang

***

Siapa bilang bumi tak punya surga?
Hari ini aku mengecap surga
Dari puncak Mahameru kulihat cinta
Tidak ada yang lain
Yang ada hanya aku dan kamu
Menyicip surga dalam dekap malam

The Brainy and The Ninny

I’m a fragile
Drowning in quandary
Oscillating in my instability
Grown up in the dream of aptitude

Then you sneaked into the glass
Seeing if a notion there
Checking anomaly
Looking for eccentricity

I’m not surprise if you see nothing
I’m just an ordinary. The perfect mediocre.
Perish in my own query, in my way of pursuit
Get lost in peculiarity, because i’m not done asking my own conviction
Idiosyncrasy of adolescence, you wont be that interested.

But I sit there, looking into the glistening eyes
Wondering if there is another else behind the rigidity
But than after a while, i know the answer is no
Simplicity of an N and an O

I got home and overlook the memories.
But then a popped up windows dash out again and again
Showing your face, sound off your voice and laugh
I’m wondering if there is a something wrong
I know the answer is Yes
Simplicity of a Y and an E and an S

But you’re not seeking for juvenile, i guessed
You wont extracted by sheepishness, i bet
You wont have time for my nonsense rag
We’re just not concordant in a way or another
The Brainy and The Ninny
The world would laugh of me

I need to scuttle of these all
Say something or just buzz off

These vacuity is torturing
Indifference is killing me
And you just did
Yes, you did.
Simplicity of a D and an I and another D.

Di Atas Awan


Awan.. awan..
Hanya ada awan
Awan dimana-mana
Putih...putih... awan-awan putih...
Terbang ke awan-awan

Aku terbang pagi ini
Ke awan putih dan langit yang biru
Jingga telah lama naik ke atas
Kini tinggal terang yang silau
Menghangatkan ombak-ombak kapas yang beriak-beriak
Rasanya lembut di pipi sini
Padahal semu tak bisa disentuh

Tuhan.. Tuhan... Dimana rumahMu?
Jauhkah dari sini?
Aku ingin main bertamu
Kata mereka rumahMu indah
Tuhan..Tuhan... Tak kujumpai juga rumahmu di atas sini
Padahal aku sudah jauh terbang-terbang tinggi
Jangan-jangan mereka bohong!
Jangan-jangan kau tak punya rumah!
Tuhan..Tuhan.. aku lelah mencari di sunyi ini
Mengamati lautan kapas putih yang seakan tanpa tepi
Mungkin kau sudah pindah rumah
Digusur seperti rumah si Andi

Langitnya masih biru
Awannya tetap putih
Meliuk-liuk melingkar
Melukis senyum tak sempurna

Tuhan.. Tuhan.. tak perlu lagi aku cari rumahmu
Aku sudah tahu
Kapan-kapan boleh main ya?
Nanti kalau sudah waktuku
Bukakan pintu ya...
Tak perlu pakai awan-awan yang banyak
Kau saja sudah cukup

Aku dan Si Tua



Yang tersisa...
Tinggal aku
Disini teronggok
Tapi masih berdiri
Menanti ada yang datang lagi
Mengajakku main lagi

Yang tertinggal...
Hanya sebuah pojok busuk berdebu
Aku tergolek terlupakan
Menunggu ada yang main
Mengajakku pergi ke pantai
Merindu-rindu jingga temaram

Yang ada...
Hanya aku dan si tua
Yang terus akan disini
Menunggu... menunggu... menunggu
Bahkan kalaupun tak ada lagi yang bisa ditunggu
Menanti dengan segudang kenangan
Dan serpih-serpih senyum yang tersisa

Suatu saat
Saat kau tengok pojok berdebu
Ingat aku dan si tua yang usang ini
Menunggu diam-diam
Untuk main lagi di pantai

Main Lagi Kapan-Kapan

Aku ucapkan selamat tinggal padanya
Kuantar sampai di simpang jalan
Sampai ia lepas ke cakrawala
Main lagi kapan-kapan, lambaiku tersenyum

Datang mampir tanpa sengaja
Lalu terbuai bermain terlampau larut
Tapi ada mentari yang akan tenggelam
Kita harus tahu kapan waktu pulang

Jalan, abu-abu menyatu membuta
Aku hanya pikirkan kau saja
Kuadukan pada tuhanku
Keluh kesah kalau aku ingin kamu

Dan terjaga aku diguncang bajaj
Kuantar kau ke persimpangan
Kulambai tulus dengan senyum
Melepasmu ikhlas dalam lega

Aku masih ingin kau main terus
Tapi ada mentari yang akan tenggelam
Jadi, pulanglah kejar cintamu
Biar kita main nanti lain kali

Di jalan abu-abu punggungmu menjauh
Aku masih dan akan terus ingin kau seorang
Tapi bukankah sayang mengikhlaskan
Jadi, main lagi kapan-kapan Cinta

Aku akan menyambutmu berbinar
Aku tak akan menunggu kau di simpang ini
Aku akan tetap berkebun, belajar dan hidup seperti biasa
Seperti ketika kau mampir mengetuk

Ah Tuhan, ajar aku keikhlasan...

Fertilisasi Cinta

Jika aku bertemu Tuhan
Akan kuminta pertanggung jawabanNya akan sesuatu :
Menciptakan cinta

Aku selalu takjub
Sekaligus marah dan kesal
Ingin rasanya aku teriak pada langit yang akan tetap biru
“Kenapa harus ada?”

Saat panah-panah kekaguman dari matanya
Seperti getar-getar sperma yang rakus
Menyerbu sel telur hatiku yang sedang menunggu subur
Dan saat itulah, pembuahan terjadi.
Fertilisasi cinta.
Antara sperma kekaguman dan sel telur hati yang saling memeluk

Aku mulai merasakannya
Ada janin cinta tumbuh dalam dadaku
Membuatku mual jungkir balik setiap kali kulihat dia menunduk
Aku mulai tak bisa makan, keringat dingin setiap siang
Ketika kulihat senyumnya melintas di lorong-lorong sepi yang dingin
Janin cinta ini menyiksaku

Sayangnya, aku terlalu pengecut untuk itu
Aku tidak berani jadi seorang ibu cinta selamanya
Memelihara dan melihatnya tumbuh besar

Mungkin keputusan ini paling benar
Aborsi rasa cinta.
Sebelum ia jadi bayi yang mencakar-cakar dada
Membuat lemah, sakit dan lalu mati

Bukankah cinta selalu menyakitkan?
Dan aku terlalu lemah untuk rasa sakit
Bukankah cinta selalu menyakiti?
Dan aku terlalu penakut untuk berani ditolak

Biar sajalah seperti ini
Besok pagi aku akan segera pergi ke klinik
Minta dikuret hati agar bersih dari plasenta-plasenta cinta yang tertinggal
Akan kutanam bangkai janin cinta di halaman rumahku
Biar dimakan kucing jalan yang lapar, hilang dengan ari-arinya

Besok aku tak akan mencarimu dimana-mana lagi
Aku pergi jauh biar lupa, namun aku yakin kau tak akan mengerti
Karena pastinya kau tak sadar
Fertilisasi cintamu telah membunuhku.


Catatan :
Fertilisasi : Pembuahan, proses penyatuan gamet pria dan wanita,terjadi di ampulla tuba fallopi. Bagian ini adalah bagian terluas dari saluran telur dan terletak dekat dengan ovarium. Spermatozoa dapat bertahan hidup di dalam saluran reproduksi wanita selama kira-kira 24 jam.

Kuretase adalah proses pengeluaran isi rongga rahim untuk membersihkan sisa kehamilan atau jaringan yang tak normal dengan cara mengerok jaringan di lapisan dalam rahim.

Plasenta atau tembuni adalah suatu organ dalam rahim pada masa kehamilan yang memberikan nutrisi dan melindungi janin sewaktu dalam kandungan.

Bayangan Menyamping

Pada sesap terakhir
Mengantar telan yang paling bungsu pada lambung
Selalu saja rasa itu muncul, ketakutan
Gelisah,kakiku bergoyang mengendalikan detak
Tiba-tiba kursi yang tadi nyaman memeluk kini membuat kaku
Aku duduk tegak di kursi, berkeringat dingin
Merasakan tekanan-tekanan di bawah dada, mendorong-dorong penuh
Jantungku berdegup cepat, konsentrasiku hanya pada kepenuhan di bawah dada

Ibuku mengajak berbincang ‘Apa yang menarik hari ini, Kak?’
Tapi pikiranku hilang entah kemana
Sibuk pada rasa ditekan yang melonjak ingin keluar kerongkongan
Lalu ketika berdiri, merasakan segumpalan benda menjijikan yang telah dikunyah
Meluncur turun ke perut bawah, membuat penuh seisi tubuh
Rasa bersalah itu muncul, menyergap dari belakang dan memeluk tubuhku erat sampai sesak
Aku hanya ingin bebas dari rasa sesak menyiksa ini

Cahaya putih warna-warni, terang ketika sekumpulan otot-otot perutku melonjak bersamaan
Mendorong segala dosa keluar dari kerongkonganku yang panas terbakar perih
Rasa lega, melayang kosong ketika telinga menangkap bunyi air dipecah entah apa
Puas, termenung hampa bebas dari sesak ketika tanpa kasihan kuputar tungkai perak
Membuang seisi dosa diguyur hilang
Aku berkaca, berdiri menyamping, ‘Ah, masih saja selalu kurang’

Perutku kosong berteriak-teriak perih
Dibawah dadaku sakit, berkontraksi lama-lama
Namun aku senang, gembira semu, aku bebas
Dalam bunyi gosok gigi yang membisukan bumi
Aku tersenyum muram memandang bayang dalam kaca kamar mandi yang berembun
Membiarkan suara entah siapa berbisik wangi dengan segarnya pasta gigi, 'Good girl..'
Bulimia, sahabatku yang bicara.



CATATAN :
Bulimia nervosa adalah kelainan cara makan/ eating disorder dengan memuntahkan makanan yang telah dimakan karena perasaan takut gemuk. Yang paling sering dilakukan oleh lebih dari 75% orang dengan bulimia nervosa adalah membuat dirinya muntah, kadang-kadang disebut pembersihan; puasa, serta penggunaan laksatif, enema, diuretik, dan olahraga yang berlebihan juga merupakan ciri umum.

Bunga Di Mejaku

Ada mawar
Ada daisy merah muda
Tergolek berhimpit-himpit dalam gelas kaca
Haus menyeruput nyeruput air yang benih keruh
Di atas mejaku

Sampai kapan kamu disana?
Menanti layu dan lalu mati
Dibuang dalam pusara para bunga
Sampai kapan tergolek indah
Rapuh tak terkoyak
Lalu busuk luruh dan gugur

Atau kamu mau temani aku
Di malam-malam sepi ini
Diiringi musik jari-jari huruf kecil

Malam ini mendayu
Aku juga tak tahu mengapa
Tapi memandangmu belum layu
Buatku senyum merekah
Masih ada kalian yang bangun
Di larut malam ini

The Blind Moon

grip my hand like you did last night
i know it's just a while, but it feels like a day night
i know it means nothing, but somehow it makes me smile
this moon was just too blind to remind us if we were wrong
just.. walk with me under the dark lonely sky
grip my hand and lead my way
let the moon tell us story
about the sun and herself, about the day and the night

i just want you to grip my hand like you did last night
and we're just same along the way home
last night, tonight and tomorrow

***
aku nggak ngerti apa ini
dan juga tak ingin mengerti
biar saja seperti sebuah misteri yang muncul dalam mimpiku
tanpa tahu kamu siapa dan apa
tapi kupikir
tanpa peduli cangkir-cangkir yang lain
aku seperti lilin yang mulai meleleh
dalam cangkirmu tanpa permisi
dan kurasa
tanpa tahu ditujukan kemana rasa ini
dan juga tak ingin mencari tahu alamatnya
kurasa, aku sayang kamu...
tapi kita setuju bukan?
kalau kata itu punya seribu arti :)

Hujan Berbagi Cerita

Hujan mengamuk sore ini

Menebar sejuk yang terlampau malas di luar

Menggantung bau tanah yang sedang mandi

Membentuk motif-motif indah di jendelaku

Seperti tubuh-tubuh kumbang kecil yang transparan

Mungkin Tuhan sedang menangis

Mungkin Tuhan sedang depresi

Air mataNya mengamuk menjadi-jadi di luar sana

Mungkin Tuhan sedang kecewa

Kenapa Tuhan sedih?

Ya... Kau pasti taulah sebabnya kalau kau lihat keluar jendela dunia sana


Hujan...hujan... langit jangan marah

Hujan... Langit jangan sedih

Aku jadi sedih di balik tirai sini

Bisik-bisik gemerisik gerimis

Hujan mau berbagi cerita

Tentang hatinya yang terkoyak

Hujan..hujan.. jangan sedih

Aku disini untuk dibagi

Dibagi tangis dan ratapmu



catatan:

Menanti hujan yang mengguyur liburan :(

Biru Jingga dan Mentari

Jingga, lihat lah langit!

Matahari indah sore ini.


Hanya sebuah pesan singkat mengganggu kantongku bergetar-getar

Pesan singkat yang membawa sejuta senyum berwarna biru

Mengurai wajahku yang lusuh, disimpul menjadi senyum jingga

Melangkah ke negeri tinggi, melayang bebas dalam khayal


Mentari, kau yang mampu melukis seuntai mawar di bibirku

Dan selalu mampu mengurai nanar dalam tatapku

Menjadi sebuah relaksasi, basuhan langit yang membujuk lembut


Mentari, biar mereka menyebar hilang di kolong langit

Dan aku disini dengan seribu kebimbangan, seribu kesepian, sendiri

Selalu ada kamu yang setia di atas sana, tak berubah walau seluruh isi kolong luruh

Tak pergi walau kusesat dalam pikir dan alam maya yang berkabut-kabut

Dan tetap seperti itulah, sayang. Jangan pernah berubah.


Mentari, biar hariku perih

Kata mereka tentang sejuta rusak tubuhku

Kau bilang, suatu hari saat kau milik langit, akan kuajak kau mengitari orbit tertinggi

Dan janjimu itu, Mentari... Buatku lepas lemas ringan menapaki lorong ini


Melihat langit, menatap cinta penuh kisah dari matamu yang berbinar-binar

Selalu berhasil membuat hariku indah menari-nari, walau lekas berganti malam

Menatap jingga yang mengganti biru, lalu biru gelap yang mengganti jingga

Mewarnai langit menemani sang surya berjaga dan terlelap.

Itulah hari, itulah hidup. Itulah rotasi, itulah revolusi.

Itulah kamu, kesayangan semesta.


Jingga lihatlah langit!

Dan kau temukan senyum dari si biru yang menitipkan sejuta kisah bidadari yang rindu bumi


Jingga lihatlah langit!

Kala resah perih mendera, karena mentari ada disana

Menunggu kau pulang, tinggal dan tak berubah


Untukmu, Jingga

Dan untuk Biru yang menutup pemakaman langit atas kematian bulan Juli.



Catatan:

Selamat ulang tahun, sayang! :)

Rindang Sejati

Kuharap kamu tetap disana
Menunggu saat-saat kita berdua
Bercengkrama dengan mentari yang tersenyum ramah
Atau mendengar hujan berbagi cerita

Kuharap kamu tetap sama
Saat aku kembali datang menyapa
Persilahkan aku duduk di bangkumu
Lalu kau buai dalam keremangan sore yang sejuk
Kita beradu dalam bayang yang akrab

Kuharap kamu dan segalanya tetap menantiku
Jika aku pergi terlampau jauh
Sampai kau tak lagi dapat lihat punggungku
Panggil aku, sebut namaku dan sambutku kembali
Jangan biarkan aku lepas dari dahan-dahanmu yang rindang melindungi
Aku ingin ada disana saat daun terakhirmu meranggas
Memegang erat jemari rantingmu sebagai sahabat paling setia

Jangan lupakan aku, walau kupikir kau lupa
Jangan berhenti menantiku, walau kupikir kau telah lama pergi
Jangan berhenti merindukanku...
Karena yang kubutuhkan adalah rindumu untuk bawaku kembali
Karena kau lah sahabat sejatiku

Diiringi gemerisik dedaunanmu dalam sunyinya senja ini
Biar sekali ini, aku kembali mencarimu
Dinaungi rindang semesta

Mengejar Langit

Friday, July 17, 2009

Hey! Tunggu aku
Tergesa kucari kau dilalu lalang
Hatiku ricuh diriuh kota
Aku janji padamu
Senja ini di pantai sana
Aku berlari memacu kuda besi ini
Tak ingin kau lelah dan lama menunggu
Dan akhirnya kau pergi tinggalkan aku
Aku tau hanya picisan, tapi aku tak bisa hidup tanpamu

Hatiku diburu, napasku tak teratur... cemas
Tanganku dingin basah oleh keringat
Perutku mulas terlampau tegang
Jutaan kupu-kupu memenuhi perutku
Tanpa permisi mereka beranak-pinak membuatku tersiksa
Ini kah rasanya, jatuh cinta?

Aku masih di sepintas ini
Sambil komat-kamit minta kau jangan pergi dulu
Ada sesuatu yang harus kuucapkan senja ini
Aku hampir... hampir terlambat
Kau merangkak turun
Dari singgasana cantik itu
Semakin dekat dengan bumi
Semakin gemetar hatiku melihat rupamu yang rupawan
Oh, kau membuatku terlalu jatuh hati

Dan lalu dikejauhan
Kulihat surga itu
Pantai mimpi, tempat kita janji merindu
Kau masih sangat cantik, sejengkal dari bumi
Seakan menungguku, menyapa untuk mengantarkan pada peluk malam
Senja ini di pantai tanah mimpi, kita beradu

Hari ini berpuluh kilometer kutempuh
Hanya untuk mengejar langit
Untuk mengantarkan cintaku sampai lelap
Dinyanyikan debur ombak yang mulai pasang
Menjingga kau begitu terlalu cantik
Aku bisikkan ketika kau menyentuh bumi
Hey! Aku terlalu jatuh cinta padamu, Mentari
Dream Land, Uluwatu, Bali 2009

Arti?

Pertanyaan.

Kini tak ada lagi yang lebih menyesakkan dada selain berbagai tanda tanya
Membentuk polemik jiwa yang tak tentu sehingga bahkan aku pun tak dapat memahaminya
Berlalu dan berlalu
Apa rasanya tak dapat bertanya?
Apakah dapat lebih gelap dan lebih sunyi dari mendung hari ini?
Entah apa memenuhi tanda tanya?
Apa kah biru, merah atau jingga mengisinya?
Warna ataukah kabut tak tampak?
Atau materi lain yang tak ada di wajah bumi?
Mungkin saja hanya sang manusia yang memilikinya
Tanda tanya di kepala?

Lalu apa arti tanda?
Arti tanya?
Arti semua kata ini?

Musim Kupu-Kupu

Musim cinta ini
kupu-kupu datang berpasang-pasangan
hinggap di kuntum yang hampir semi
menatap langit belai sayapnya ringan

Musim cinta ini
kupu-kupu ajakku terbang
membuaiku di sayap cinta
indah lelapku dari mimpi

Main...main di taman merah jambu.
Yang indah menyala-nyala

Musim cinta ini, semerbak dapat kuwangi harumnya
Aroma keringat yang maskulin dari tubuhnya yang kuingat
Dia telah lama pergi
Jauh entah kemana, tak ingin pula kucari lagi

Musim cinta, cepatlah datang lagi
Karena aku...
Hampir lupa wangimu.

Meracau Saja


Friday, July 17, 2009

Berdentum, bergoyang, melentur

Hanya pahit kurasa dibibir
Lampu kedap kedip warna warni
Jantungku melonjak-lonjak di dada sini
Semua orang sepertinya bergerak berbeda arah
Atau memang lantainya yang gempa tanpa akhir

Hilang dalam ilusi rasa
Senang rasanya melayang setengah sadar
Lupa bahwa bumi punya gravitasi
Hanya menari mengikuti dentuman yang bertalu-talu
Lalu meracau tak jelas sedikit-sedikit tertawa
Ah, siapa pula pencipta air ajaib itu?
Air pembawa ilusi rasa untuk membubung tinggi dan lepas dari bui bumi
Walau hanya sejenak saja

Mengejar Langit II

Friday, July 17, 2009

Ia duduk tak bisa tenang
Pikirannya melaju lebih cepat dari mobil ini
Sebentar-sebentar diliriknya jam hijau yang kedip-kedip tenang
Sekali-sekali aku terguncang oleh jalan yang mendaki dan berkelok
Ia menggoyang-goyangkan kakinya tanda gelisah
Kadang dilihatnya langit
Mungkin berdoa agar senja jangan datang dulu
Mungkin begitu bila orang jatuh cinta
Gelisah, cemas, tak sabar
Menunggu waktu berjumpa sang kekasih
Lalu pantai mimpi itu terlihat dari tebing sini
Indah mempesona tanpa kata lebih indah untuk melukiskan keindahannya
Kekasihnya masih menunggu di ujung sana
Anggun turun dari atas langit, menyapa cakrawala
Tergesa ia berlari ke pantai
Memeluk hangatnya yang masih terasa
Semburat jingga yang tumpah di barat sana seakan balas memeluknya
Mereka berdua melepas rindu
Matahari senja dan kekasihnya
Jatuh cinta pada langit memang luar biasa